Arsip untuk September, 2007

h1

Terkait Noordin M Top: Densus 88 Tangkap Ustaz Sahl di Poso

September 30, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Detasemen Khusus Anti-Teror 88 Mabes Polri menangkap Ustaz Sahl (35), pengajar di Pesantren Alamanah, Tanah Runtuh, Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (9/2), di Poso. Ia diduga terkait dengan buron teroris nomor wahid, Noordin M Top.

Penangkapan terhadap pengajar di pesantren pimpinan Ketua Forum Silahturahim dan Perjuangan Islam Poso Ustaz Adnan Arsal itu, dibenarkan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah, Brigjen Oegroseno, Sabtu (11/2), di Palu, yang menambahkan kasusnya kini ditangani langsung Densus/AT 88. Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla telah menyatakan Pesantren Alamanah, Tanah Runtuh, Poso, mempekerjakan sejumlah alumni Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah. Bahkan saat kasus mutilasi terhadap tiga siswi SMA Kristen di Poso, Selasa (29 November 2005), Wapres Kalla sempat menelepon Ustaz Adnan untuk menanyakan soal itu.

Menurut keterangan Ustaz Adnan, Wapres Kalla menuduh pelaku mutilasi itu berasal dari pesantren yang dipimpinnya, yaitu Pesantren Alamanah. Tentu saja Ustaz Adnan protes dengan pernyataan Wapres itu.

Pengecer Minyak
Terkait penangkapan Ustaz Sahl, Ustaz Adnan bahkan menuduh polisi merekayasa keterkaitan lelaki itu dengan Noordin M Top. ”Saya melihat ini adalah upaya sistematis untuk menjelek-jelekan Pesantren Alamanah. Sebenarnya mereka menyasar saya, bukan Ustaz Sahl.
Kalau polisi mau carilah bukti bahwa pesantren saya mengajarkan terorisme, kalau dapat, tutuplah pesantren saya,” tegas Ustaz Adnan yang juga salah seorang deklarator Malino untuk Poso itu.

Ustaz Sahl ditangkap Densus 88 saat akan mengantar minyak tanah ke pelanggannya di Jalan Pulau Irian Jaya, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota.

Sehari-harinya, ia memang pengecer minyak tanah. Sahl ditangkap pada Kamis (9/2) oleh Densus 88 dan langsung dibawa ke Mabes Polri untuk dipertemukan dengan Abu Mujahid yang telah ditangkap beberapa waktu lalu di Semarang, Jawa Tengah, karena diduga menjadi salah seorang kepercayaan teman Dr Azhari.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/11/sh06.html

h1

Mantan Penjabat Bupati Poso Diperiksa di Polda Sulteng

September 30, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Mantan penjabat Bupati Poso, AAS sejak Selasa (29/11) hingga hari ini masih diperiksa oleh tim gabungan Mabes Polri dan Polda Sulawesi Tengah, di Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulawesi Tengah. Pemeriksaan itu terkait dengan dugaan keterlibatannnya dalam kasus korupsi sebesar Rp 13 miliar jatah hidup dan bekal hidup untuk pengungsi Poso, Sulawesi Tengah tahun 2003.

Sementara ini, dua orang rekanan dalam kasus jatah hidup (jadup) dan bekal hidup (bedup) itu sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak Sabtu (26/11) lalu. Kedua orang itu adalah H. Agus dan Ivan Sijaya.

Menurut sumber SH, jika status tersangka sudah ditetapkan, maka akan diproses lebih lanjut di Mabes Polriu Mabes Polri. Sampai saat ini, Polda Sulawesi Tengah belum memberikan keterangan resmi terhadap kasus ini.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada satu pun pihak yang bersedia memberikan konfirmasi mengenai kasus tersebut. “Saya masih no comment. Saya belum bisa berbicara banyak tentang kasus ini,” kata Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Rais D. Adam, ketika dihubungi SH Rabu (30/11) pagi di Mapolda Sulteng.

Kekerasan di Sulteng
Sementara itu pagi ini ratusan orang dari Komite Aksi Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan demonstrasi di bundaran Hasanuddin I berjalan kaki menuju Kantor DPRD Sulteng dan Polda Sulteng. Mereka meminta agar dihentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, dan agar diusut tuntas kasus kekerasan di Sulteng, serta pelakunya ditangkap dan diadili.

Mabes Polri hingga kini masih memeriksa Ipong dan Yusuf, dua tersangka dalam kasus penganiayaan serta kekerasan di Poso. Kedua tersangka itu dibawa dari Poso ke Jakarta Kamis lalu terkait kasus penembakan terhadap Bripka Agus Sulaiman pada 11 Oktober 2005, penembakan terhadap pelayan Sumaryasa pada 21 Mei 200, serta perampokan gaji Pemda Poso pada 19 Juni 2004.

Menurut Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Soenarko saat dihubungi SH Rabu (30/11), dari hasil pemeriksaan Bareskrim Mabes Polri, Ipong dan Yusuf baru diketahui terlibat dalam tiga kasus tersebut.

Sebelumnya, Mabes Polri juga telah menahan dua orang dari Poso, yaitu David dan Mute di rumah tahanan Mabes Polri. “Yang jelas, penyidik hingga kini masih terus memeriksa tersangka Ipong dan Yusuf yang sengaja dibawa dari Poso ke Jakarta,” tegasnya.

Sementara itu menurut sumber kepolisian, Ipong dan Yusuf adalah orang terlatih yang diduga terlibat serangkaian pembunuhan dan keributan di Poso. Oleh karena itu pemeriksaan terhadap kedua tersangka dilakukan secara khusus guna mengungkapkan kejahatan-kejahatan yang pernah mereka lakukan.

Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Soenarko menambahkan, Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah telah berhasil menangkap empat tersangka dalam kasus pembunuhan terhadap Apriyanti tanggal 17 November. Keempat tersangka itu adalah Parlin, Arsam, Nurdin dan Harfisal, kini ditahan di Polda Sulsel.

Saat ditanya apakah ada keterlibatan empat tersangka itu dengan tersangka lain yang sudah ditahan di Mabes Polri, Soenarko tidak mau menjelaskan.***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0511/30/sh10.html

h1

Bupati Morowali Dilantik Lagi

September 28, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Andi Muhammad, mantan Bupati Morowali, Sulawesi Tengah yang menjadi terdakwa korupsi Rp 5 miliar kembali dilantik menjadi bupati daerahnya. Ini menyusul kasasi Mahkamah Agung yang membebaskannya dari tuntutan hukum sesuai vonis Pengadilan Negeri Palu, tahun lalu.

Andi dilantik, Jumat (28/9) ini di ruang Polibu, Kantor Gubernur Sulawesi Tengah oleh Gubernur Sulawesi Tengah HB Paliudju. Lima tahun lalu di ruangan sama, ia dilantik oleh Gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele.

Dua tahun lalu, kasusnya bermula dari dugaan korupsi dana pemekaran wilayah senilai Rp 5 miliar. Pada Agustus 2005, Andi kemudian diperiksa di Mabes Polri. Bahkan kemudian Mabes Polri mengirimkan surat kepada Gubernur Bank Indonesia untuk memblokir sejumlah rekening Andi Muhammad senilai tidak kurang dari Rp 2 miliar.

Sejak saat itu, ia dinonaktifkan sebagai Bupati Morowali, kemudian kembali dilantik.***

Sumber: http://sinarharapan.co.id/berita/0709/28/nus05.html

h1

Tempat Transit Peredaran Narkoba di Sulteng

September 28, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu-Akhir Mei lalu, kapal penumpang milik PT Pelni berlayar dengan tenang dari Pelabuhan Pantoloan Palu menuju Tolitoli. Dari mikrofon, terdengar suara nakhoda, bahwa satu jam lagi, kapal akan tiba di Pelabuhan Dede, Tolitoli. Mulailah terlihat kesibukan para penumpang, karena sebentar lagi mereka akan tiba di tujuan.

Tapi, di sudut yang lain seorang perempuan paruh baya tengah sibuk mengutak-atik angka di telepon genggamnya. Berkali-kali ia mencoba menelepon seseorang, tapi sinyal belum begitu kuat. Perempuan itu pun berkali-kali menekan angka-angka di telepon genggamnya. Tak begitu jauh lagi dari Pelabuhan Dede, Tolitoli, wajah perempuan berinsial Ds itu tampak sumringah. Sesungging senyum terlihat begitu nyata di wajahnya. Tapi, perempuan paruh baya itu tampak sangat hati-hati ketika mulai membuka pembicaraan dengan seorang lelaki di seberang. Entah apa yang mereka bicarakan.

Sauh telah dilempar ke laut. KM Dobonsolo pun merapat di Pelabuhan di Dede Tolitoli. Wanita paruh baya berinsial Ds tadi pun dengan tenang turun dari kapal itu. Ds tampak begitu terburu-buru menuju suatu rumah yang tak jauh dari pelabuhan.
Tak dinyana sama sekali, ternyata sejumlah anggota polisi berpakaian preman mencurigai gerak-gerik Ds. Kecurigaan itu bermula
dari telepon-telepon ketika masih di atas kapal. Maka mereka pun mengikuti perjalanan Ds tanpa diketahui sama sekali.

Ternyata, pengintaian terhadap Ds itu tidak sia-sia. Mereka menyaksikan Ds menyerahkan sebungkus plastik kepada pasangan suami istri, yang rumahnya tidak jauh dari pelabuhan itu. Serentak, dua tiga orang anggota polisi langsung menyergap ketika orang itu, yakni Ds, Tr, dan Ur.

Awalnya mereka sempat membantah, tapi setelah diperiksa, plastik yang diserahkan Ds itu ternyata berisi sabu-sabu seberat 1,90 kilogram. Tak menunggu lama, polisi pun menggelandang ketiga orang itu ke Mapolres Tolitoli untuk diperiksa.

Dari keterangan yang diperoleh dari pemeriksaan itu, terungkap bahwa Ds mengaku membeli sabu-sabu itu dari seseorang di Nunukan, Kalimantan Timur. “Saya membelinya seharga tujuh ratus ribu rupiah. Saya sengaja membelinya, karena dipesan oleh Tr dan Ur,” kata Ds di hadapan tim penyidik Polres Tolitoli.

Tr dan Ur pun tak dapat mengelak. Keduanya pun mengakui kalau memang mereka yang memesan barang haram itu. Tapi, menurut keduanya bahwa pertama kali mereka memesan barang tersebut dari Ds. “Kami baru kali ini memesannya,” kata Tr kepada polisi. Kini, ketiganya masih ditahan di Mapolres Tolitoli untuk penyidikan lebih lanjut. Artinya, jika penyidikan telah selesai, kasus itu segera dilimpahkan ke kejaksaan untuk disidangkan. Bagaimana hukuman yang akan diterima ketiga orang itu. Semuanya tergantung palu sidang hakim.

15 Persen Siswa
Sejumlah kalangan menilai, bahwa sabu-sabu dan obat terlarang lainnya yang beredar di Palu, berasal dari beberapa daerah di Indonesia seperti Surabaya dan Jakarta. Tidak hanya itu, patut diduga berasal dari Malaysia yang masuknya melalui pintu Nunukan dan Tarakan. Selanjutnya melalui jalur laut ke Palu.

”Saya hanya berharap agar pintu masuk seperti pelabuhan laut dan udara dipantau lebih ketat lagi untuk mencegah masuknya barang haram itu ke Sulawesi Tengah,” kata Hardy Yambas, ketua Gerakan Rakyat Anti Narkoba (Granat) Sulteng.

Hardy Yambas menduga Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah sasaran yang sangat empuk bagi pengedaran narkoba. Palu sendiri menjadi daerah transit yang baik. “Dari Palu itulah baru kemudian beredar ke mana-mana di Sulawesi Tengah ini,” kata Hardy Yambas yang juga Ketua KNPI Sulteng ini.

Sosiolog asal Universitas Tadulako, Christian Tindjabate, mengatakan sudah banyak kasus kepemilikan ekstasi dan sabu-sabu yang disidangkan di sejumlah pengadilan negeri di Sulawesi Tengah. Tapi, persidangan itu selalu diakhiri dengan hukuman yang ringan, sehingga tidak menjadikan para pelaku menjadi jera.

”Jika saja para pelaku pengedar obat terlarang di Sulawesi Tengah ini dihukum dengan berat, setidak-tidaknya mereka akan jera dan tidak lagi kembali melakukan hal yang sama setelah bebas dari hukuman,” kata staf pengajar pasca sarjana Universitas Tadulako Palu ini.

Berdasarkan hasil survei LSM pemantau masalah narkoba di Sulawesi Tengah, Nilava Lingkar Studi (NLS), menyebutkan sedikitnya 15 persen pelajar sekolah menengah umum (SMU) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Palu diduga kuat mengkonsumsi narkoba jenis pil koplo, ganja, dan sabu. Manajer Program NLS, MHR Tampubolon mengatakan angka temuan 15 persen itu didasarkan hasil survei mereka baru-baru ini terhadap 600 siswa di 30 SMU dan SMK.***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0706/11/kesra02.html

h1

Ustaz Sahl Dibebaskan: Ribuan Warga Masih Duduki DPRD Poso

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu — Setelah ribuan warga menduduki Gedung DPRD Poso sebagai protes ditangkapnya Ustaz Sahl Alamri oleh Detasemen Khusus Anti-Teror 88 Mabes Polri, maka Sahl yang diduga terkait dengan teroris Noordin M Top itu dibebaskan Rabu (15/2) sore.

Meski demikian, pihak keluarga dan ribuan warga sampai Kamis (16/2) pagi ini masih menduduki Gedung DPRD Poso, karena belum yakin perihal pembebasan itu, kecuali setelah melihat Sahl. Selain itu, mereka masih menuntut agar Ipong dan Yusuf, dua tersangka terorisme lainnya dibawa kembali ke Poso.

Soal pembebasan Sahl diungkapkan oleh Komandan Operasi Keamanan Sulawesi Tengah, Inspektur Jenderal Paulus Purwoko kepada wartawan, Kamis (16/2) pagi.

”Demi hukum dan karena tidak cukup bukti terkait terorisme, yang bersangkutan dibebaskan. Sejak kemarin sebenarnya yang bersangkutan akan segera kita bawa lagi ke Poso, namun kemarin ia meminta untuk menjenguk saudaranya di Semarang,” sebut Paulus yang juga Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri ini.

Ia juga menegaskan pembebasan Sahl tidak terkait dengan tuntutan warga yang dimotori oleh Forum Silahturahim dan Perjuangan Umat Islam Poso (FSPUI), salah satu organisasi massa Islam terbesar di kota itu. ”Pembebasan Sahl murni karena hukum setelah dalam penyelidikan polisi tidak ditemukan unsur yang mengaitkan bersangkutan dengan tindak terorisme,” imbuh Paulus.

Kadiv Humas Mabes Polri itu pun mempersilakan jika pihak keluarga ingin mengajukan gugatan praperadilan atas polisi dalam hal ini Densus 88/AT, yang menangkap Sahl, apabila dinilai penangkapan itu tidak prosedural.

Sementara itu, Ustaz Syarifullah Djafar dari FSPUI dan mewakili keluarga, juga membenarkan pembebasan ustaz yang mengajar di Pesantren Alamanah, Tanah Runtuh, Poso itu. ”Saya sudah menelepon Ustaz Sahl, katanya untuk sementara waktu ini ia beristirahat dulu di rumah mertuanya di Semarang,” kata Ustaz Syarifullah kepada SH, Kamis (16/2) pagi via telepon selular.

Ustaz Sahl ditangkap Densus 88 saat akan mengantar minyak tanah ke pelanggannya di Jalan Pulau Irian Jaya, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota, Kamis (9/2) pekan lalu. Sehari-harinya, ia memang menjalani profesi sebagai pengecer minyak tanah. Saat itu, Sahl langsung dibawa ke Mabes Polri untuk dipertemukan dengan Subur Sugiyanto alias Abu Mujahid yang telah ditangkap beberapa waktu lalu di Semarang, Jawa Tengah, karena diduga menjadi salah seorang kepercayaan Noordin M Top.

Bahkan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Makbul Padmanegara dalam laporannya ke Komisi III DPR menyatakan bahwa Sahl diduga juga sebagai anggota Jamaah Islamiyah (JI). Ia dikirim ke Poso tahun 2000 dari Wakalah JI di Jawa Tengah. Dalam penyelidikan polisi, semua sangkaan itu tidak terbukti. Diakui Sahl, ia pernah bertemu dengan Subur, namun tidak tahu jika yang bersangkutan adalah anggota JI ataupun orang kepercayaan Noordin.

Meski sudah dibebaskan, tetap ada yang aneh dalam kasus ini. Semestinya sesuai UU Terorisme, Sahl baru dibebaskan Kamis (16/2) menepati tenggat waktu 7 x 24 jam, namun dari keterangan polisi, yang bersangkutan telah resmi dibebaskan sejak Rabu (15/2) sore.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/16/sh10.html

h1

Kasus Korupsi Dana Pengungsi Poso: Tersangka Kemungkinan Bertambah

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Maya Handini [Sinar Harapan]

Palu – Jumlah tersangka kasus korupsi dana kemanusiaan pengungsi Poso untuk jenis bantuan bahan baku rumah (BBR) tahun 2003-2005, sebesar Rp 6,4 miliar, kemungkinan akan bertambah, bila lima tersangka yang kini diperiksa di Mabes Polri Jakarta dan sejumlah saksi menyebutkan nama-nama lain dan ditemukan bukti-bukti baru.

Kelima tersangka adalah Andi Azikin Suyuti (mantan penjabat Bupati Poso), Ivan Sijaya, Hi Agus, Arif Mubin Radjadewa dan Kahar Sidik.

Hal itu dikemukakan Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Oegroseno dalam percakapan dengan Sinar Harapan di Palu. ”Kemungkinan besar jumlah tersangka akan bertambah, namun itu tergantung keterangan kelima tersangka yang kini tengah diperiksa di Mabes Polri. Dari hasil pemeriksaan nanti, kita akan tahu kemana saja dana itu dialirkan,” kata Oegroseno.

Namun dia menolak memastikan apakah termasuk saksi yang akan diperiksa adalah Gubernur Sulteng Aminuddin Ponulele, karena yang menangani kasus ini adalah Mabes Polri. ”Pokoknya, semua pihak yang terkait langsung dengan masalah dana kemanusiaan Poso akan diperiksa, baik sebagai saksi maupun yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.

Saat ini berkembang desas-desua di masyarakat di Palu, bahwa keberangkatan Aminuddin Ponulele ke Jakarta Senin (5/12) kemarin atas permintaan Mabes Polri untuk dimintai keterangannya. Namun sejumlah sumber di kantor gubernur mengatakan, bahwa gubernur ke Jakarta untuk kunjungan kerja. ”Tidak benar itu, keberangkatan gubernur ke Jakarta hanya semata-mata tugas, bukan dimintai keterangan oleh polisi,” kata seorang pejabat.

Keluarga Protes
Sementara itu, sebanyak 15 orang warga Poso, Senin sore tiba di Palu, dan menggelar jumpa pers. Mereka memrotes pihak kepolisian yang telah menetapkan Ismet, David dan Aksan sebagai tersangka kasus penembakan dua siswi SMEA Poso. Mereka menilai polisi telah salah menangkap orang.

Menurut orang tua Aksan, Firdaus (60), saat peristiwa penembakan itu, anaknya sedang menggendong keponakannya. Bahkan ketika terdengar bunyi tembakan ia malah menyuruhnya masuk ke dalam rumah yang hanya berjarak sekitar empat rumah dari tempat kejadian perkara, karena takut ada peluru nyasar.

Rugaiyah (39), ibu tiri Ismet, ia sangat menyesalkan tindakan polisi ini, termasuk menyita sepeda motor yang selama ini dipakai menarik ojek oleh Ismet.

Sedangkan Mandu (59), ayah David, mengungkapkan saat kejadian anaknya berada di rumahnya di Moengko. Bahkan ia sangat menyayangkan pihak rumah tahanan Maesa yang melarang dirinya ketemu dengan David yang ditahan terpisah dari Ismet dan Aksan.

“Saya cuma mau tahu kondisi anak saya bagaimana,” keluhnya.

Dilarikan ke RS
Sementara itu, tersangka pelaku kerusuhan di Poso Andi Ipong Paniras yang pekan lalu dibawa ke Jakarta bersama dengan Yunus, kini dirawat di RS. Polri Kramat Jati, dan diperkirakan dia mengalami depresi karena tak tahan menghadapi tekanan saat diperiksa oleh para penyidik yang ingin mengungkap keterlibatannya dalam sejumlah aksi kejahatan di Poso.

Saat hal ini diminta konfirmasi kepada Wakadis Humas Mabes Polri Brigjen Soenarko, dia menjawab belum mengetahuinya hal ini. ”Saya belum tahu tersangka dibawa ke rumah sakit nanti akan saya cari tahu. Sepengetahuan saya dia masih berada di salah satu sel tahanan Mabes Polri, akan saya konfirmasikan dahulu kebenaran tersebut” katanya Selasa (06/12) pagi.***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/06/sh06.html

h1

Presiden Mengutuk: Palu Kembali Diguncang Bom, 7 Orang Tewas

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Mega Christina/Norman Meoko [Sinar Harapan]

Palu – Tujuh orang tewas dan 40 lainnya luka-luka menyusul ledakan bom mengguncang tempat pemotongan dan penjualan daging babi di Jalan Sulawesi Maesa, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (31/12) pagi pukul 07.10 Wita.

Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Bala Keselamatan Palu, Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Rumah Sakit Budi Agung, serta Rumah Sakit Oendata.

Korban tewas yang sudah teridentifikasi di antaranya suami-istri penjual daging babi, Yopie (43) dan Ny. Mei (39), Akiang, dan seorang pembeli bernama Bambang (40).

Saksi mata, Naturanda, yang rumahnya hanya berjarak 10 meter dari pasar tersebut menuturkan, ledakan itu cukup keras dan saat ia keluar rumah mendapati korban Bambang sudah tergeletak di tanah. Begitu juga dengan Yopie dan Ny. Mei.

“Saya punya barang-barang di atas lemari jatuh semua, dan anak-anak saya menjerit menangis ketakutan,” tuturnya. Adrie (42), saksi mata lainnya mengatakan bom di pasar daging babi satu-satunya di Kota Palu itu meledak saat umat Kristiani ramai membeli daging babi untuk kebutuhan Tahun Baru.

Satu Belum Meledak
Dia menyatakan tidak menyangka kalau ada orang yang berhasil menyelinap dan meledakkan bom di kawasan itu.

Ketika bom meledak para pedagang dan pembeli berhamburan menyelamatkan diri meninggalkan daging babi berserakan di meja dagangan dan lantai kios masing-masing.

Adrie mengaku meja dagangannya kebetulan berdekatan dengan Yopie, salah seorang korban yang meninggal akibat terkena serpihan bom.

Tim Jihandak Brimob Polda Sulteng yang melakukan penyisiran menemukan sebuah bom rakitan yang belum meledak sekitar empat meter dari tempat kejadian perkara (TKP). Kapolda Sulteng, Brigjen Oegroseno dan Kapolresta Palu, Ajun Komisaris Besar Guntur Widodo, langsung menuju ke lokasi dan memimpin langsung operasi pengamanan.

Puluhan aparat kepolisian dari berbagai kesatuan sudah menutup lokasi kejadian agar tidak mengganggu tindakan penyelidikan. Kapolri Jenderal Sutanto langsung terbang ke Palu, Sabtu pagi ini.

Sejumlah pejabat di Provinsi Sulawesi Tengah juga langsung menuju TKP, termasuk Gubernur Sulawesi Tengah, Aminuddin Ponulele, Wali Kota Palu, Rusdi Mastura dan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulawesi Tengah, Azis M Godal.

Tingkatkan Kewaspadaan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat menyesalkan dan sangat mengutuk tindakan pengeboman di Palu. Pada kesempatan itu Presiden juga menyampaikan belangsukawa atas kejadian yang menimpa para korban.

“Presiden memerintahkan untuk melakukan pengusutan pengeboman ini dan kaitannya jika ada dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Presiden juga meminta aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan dalam rangka tahun baru ini,” kata juru bicara Presiden, Andi Malarangeng dalam jumpa pers di kompleks Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu pagi ini.

Menurut Andi, Presiden mendapat laporan dari Kapolri Jenderal Sutanto pada pukul 07.10 WIB tadi. Saat itu dilaporkan korban tewas tercatat empat orang, luka-luka lima orang dan sejumlah korban lain luka ringan.

“Jumlah korban tergantung perkembangan situasi, tetapi kita harapkan mudah-mudahan tidak bertambah lagi,” kata Andi. Presiden juga memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan terutama bagi korban yang luka berat dan luka ringan. Kepala Negara juga meminta identifikasi korban yang tewas.

PGI Prihatin
Menyikapi kejadian itu, Wakil Sekretaris Umum PGI Pdt Weinata Sairin yang dihubungi SH, Sabtu pagi menyatakan sangat menyesalkan dan mengecam kejadian pengeboman di Palu tersebut. ”Kami sangat prihatian dengan kejadian itu padahal baru saja umat Kristiani menikmati kenyamanan perayaan Natal, tapi kemudian terjadi lagi aksi pengeboman di Palu ini,” katanya.

Dia meminta aparat keamanan mengusut tuntas kasus pengeboman di tempat pemotongan dan penjualan daging babi di Palu tersebut. Pengusutan itu penting untuk menghilangkan citra yang berkembang bahwa daerah Palu, Poso serta sejumlah daerah lainnya sengaja ”dipelihara” oleh pihak-pihak tertentu.

”Aparat keamanan harus mampu membuktikan bahwa tidak ada image itu,” tegasnya.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/31/sh01.html

h1

Ciuman Terakhir Sang Istri Prajurit

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Web Warouw [Sinar Harapan]

Palu—Bom yang meledak di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (31/12) tahun lalu, tak cuma menyasar warga sipil. Seorang anggota TNI Angkatan Darat, Sersan Kepala Tasman Lahansang dan istrinya, Poste Dinamanis yang pegawai sipil TNI AD, juga menjadi korban kebiadaban pelaku peledakan bom di pengujung tahun 2005 itu.

Awan duka pun menyelimuti jajaran Korem 132 Tadulako tempat mendiang bertugas. Suasana haru mewarnai rumah duka saat Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Arif Budi Sampurno melepas keberangkatan jenazah prajurit TNI AD itu bersama istrinya. Minggu (1/1) siang, jenazah mereka diterbangkan ke tanah kelahirannya, Sangir Talaud, Sulawesi Utara.

Keduanya terkena serpihan bom saat sedang berbelanja di pasar daging musiman itu, dan setelah itu sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawa mereka tak tertolong.

Di Sabtu pagi itu, dengan berboncengan mereka menuju pasar daging khusus di Jalan Sulawesi, Kelurahan Lolu, Palu Utara, Sulteng. Biasanya, mereka membawa serta kedua anaknya. Tapi kali ini hanya mereka berdua.

Pelukan Terakhir
Menurut penuturan Nurhayati (34), tetangganya, pada Natal 25 Desember lalu semua orang yang berkunjung diminta oleh Poste Dinamanis untuk mencium dan memeluknya.

Tetapi siapa sangka, itu adalah ciuman dan pelukan terakhir Poste kepada para tetangga dan kawan-kawannya.
Istri Pak Tasman suka tertawa. Dia suka melucu. Kita nyaman kalau ada di dekatnya. Dia sangat baik. Makanya, waktu Natal kemarin kita rame-rame ke rumahnya,î tutur Nurhayati.

Keduanya, meninggalkan dua anak, anak tertuanya Jerry Wiranto (12) dan Deddy Rivaldy (6). Sehari-harinya Tasman bertugas sebagai Komandan Unit II Tim Intelijen Korem 132 Tadulako. Sementara, Poste Dinamanis adalah pegawai sipil di komando resor yang sama, di mana Tasman berdinas. Rupanya cinta mereka bersemi di sana.

Di mata para tetangga di kompleks perumahan Korem di Jalan Jenderal Sudirman, Palu Timur itu, mendiang suami-istri ini dikenal kompak dan sangat ramah. ìSaya tidak pernah dengar dia ada baku salah paham dengan orang.

Dengan komandannya pula tidak pernah ada masalah. Ini orang sangat baik menurut ukuran saya,î tutur Sersan Kepala M Yasin, Komandan Unit I Tim Intelijen Korem 132 Tadulako yang telah mengenal Tasman sejak 1986.

Tasman, menurut Yasin, sangat pendiam, bicara yang perlu-perlu saja. Tapi jangan disangka, ia tidak bisa melucu. Di lapangan dalam keseharian tugasnya, dalam kondisi apapun ia tidak pernah melupakan untuk menghubungi istrinya. Sewaktu-waktu, jika istrinya keluar dialah yang selalu menemani.

ìPak Tasman, orang yang sangat perhatian pada keluarganya. Makanya saya terpukul dan tidak bisa menahan tangis saya ketika melihat dua anak yang ditinggalkannya itu,î tutur Yasin.

Dari Sangir Talaud
Tasman Lahansang lahir di Sangir Talaud, 27 November 1965. Tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1984, lalu memilih masuk ke Sekolah Calon Tamtama TNI AD dan lulus pada 1987 dengan pangkat Prajurit Dua.

Semangatnya untuk terus maju begitu menggelora. Sehingga ia kembali menamatkan Sekolah Calon Bintara (Secaba) pada tahun 1994. Sampai kemudian menjadi Komandan Unit II Tim Intelijen Korem 132 Tadulako, setelah sebelumnya pernah menjadi tamtama operator radio sistem komunikasi di Batalyon Infanteri Raksatama 711 Palu.

Sedangkan Poste Dinamanis, istrinya yang juga sepupunya, lahir di Sangir Talaud, 11 September 1963. Ayah Tasman dan Poste bersaudara.

Kepergian mereka benar-benar tragis. Apalagi dua anaknya sampai kini masih juga belum paham benar bahwa kedua orang tua mereka telah dipanggil Tuhan. Deddy, anak nomor dua, mengatakan ibunya sedang pergi berbelanja di pasar.

Jawaban lugu dari bocah itu, tak urung selalu memecah tangis sanak saudara dan orang-orang yang melihatnya. Ia tidak paham kedua orang tuanya tidak akan pernah kembali lagi.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/02/sh04.html

h1

Aparat di Poso Tak Ciptakan Keamanan

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Web Warouw [Sinar Harapan]

Palu – Teror bom yang masih terus terjadi di Poso, termasuk bom di depan Kantor Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Poso dan peristiwa membuang tembakan beruntun ke udara oleh Satuan Brigade Mobil (Brimbob) Kelapa Dua dan Batalyon Kavaleri TNI Angkatan Darat, menunjukkan keberadaan aparat keamanan di Poso tidak menciptakan keamanan, tapi justru sebaliknya.

Ulah itu dinilai oleh Poso Center, aliansi dari 25 organisasi nonpemerintah, sebagai tindakan keterlaluan. Karena itu mereka meminta TNI ditarik dari Poso dan anggota Brimob yang terlibat aksi itu ditindak.

“Aparat telah menjadi bagian konflik yang justru mendestabilitasi situasi, mengancam keselamatan masyarakat, menciptakan ketakutan dan keresahan yang meluas,” tegas Koordinator Poso Center, Yusuf Lakaseng kepada SH, Rabu (11/1).

Menurutnya, keberadaan pasukan TNI di Poso sangat tidak tepat sebagai pasukan yang diperbantukan, karena Poso tidaklah dalam situasi ancaman kerusuhan apalagi terjadi perang. Lakaseng meminta keamanan Poso sepenuhnya ditangani Polri yang profesional dan berkualitas sebagai penjaga keamanan, mengungkapkan serta mencegah teror.

Jangan Terprovokasi
Kepada masyarakat, ia meminta tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh upaya-upaya sistematis yang terus digalakkan untuk memprovokasi masyarakat.

Kapolres Poso, AKBP Rudi Sufahriadi menyatakan telah melakukan pembinaan terhadap anggota polisi yang terlibat aksi itu, dan telah mengadakan pertemuan dengan pimpinan TNI AD. “Jadi ini hanya masalah kesalapahaman antaroknum aparat keamanan dan kami sudah selesaikan masalahnya,” kata Rudi.

Senin (9/1) pukul 18.30, Batalyon Kavaleri yang di bawah kendali operasi (BKO) di Kodim 1307 Poso menggelar razia di pertigaan Tugu Kota, Jalan Pulau Sumatera, Poso Kota. Tiba-tiba datang seorang anggota Brimob mengendarai sepeda motor dan tak berseragam. Karena tidak tahu itu anggota Brimob, mereka pun menahannya. Anggota Brimob marah dan terjadilah cekcok.

alu, anggota Yonkav tadi melaporkan hal itu ke komandannya. Dan terjadilah aksi saling membuang tembakan itu, saat sekitar 10 anggota Yonkav mendatangi Mapolres dan Hotel Alamanda.

Selain itu, terjadi pula ledakan di depan Kantor Satgas Penanganan Poso di Jalan Pulau Timor, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota, di depan Kantor Bupati Poso. Kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan material. Dari saksi mata diperoleh keterangan sebelum peledakan bom, dua orang mengendarai motor terlihat berhenti, lalu tak lama kemudian setelah mereka meninggalkan tempat itu sebuah bom meledak. Ledakan ini meninggalkan lubang berdiameter sekitar 15 centimeter.

Tak berapa lama kemudian, tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah datang ke lokasi dan melakukan penyisiran. Mereka menemukan sebuah botol minuman energi merek Supradyn dan uang logam pecahan Rp 200. Diduga kedua benda itu merupakan wadah dan penyumbat wadah bom ini.

Selasa (10/1) malam, Kapolda Sulteng, Brigjen Oegroseno terlihat bersama Kapolres Poso AKBP, Rudi Sufahriadi. Kapolda Oegroseno memang berada di Poso sehari sebelum peledakan bom itu.

Gerak Pelaku
Kepala Divisi Humas Mabes Polri yang juga Komandan Komando Operasi Keamanan Sulawesi Tengah, Irjen Paulus Purwoko, di Palu mengatakan polisi tengah menyelidiki apakah ledakan itu bom atau mercon. Meski demikian, pihaknya telah memerintahkan polisi menggelar razia untuk mempersempit ruang gerak pelaku.

Sumber SH di kepolisian menyatakan pelaku teror itu memanfaatkan situasi karena pembentukan Satgas Poso mendapat penolakan dari masyarakat Poso karena dinilai tidak efektif.

Pada Selasa (10/1) malam, teror bom mengejutkan warga di sekitar Kelurahan Besusu Barat, Palu Timur. Sebuah rangkaian kabel dengan lampu LED yang berkedip-kedip dan diletakkan di tepi Pantai Talise membuat warga ketakutan. Namun setelah diselidiki oleh Tim Jihandak, lampu LED yang berkedip-kedip itu adalah rangkaian PCB walkman yang disambung dengan adaptor listrik 220 Volt.

Tak Bisa Ditoleransi
Koordinator Poso Center, Yusuf Lakaseng, mengungkapkan masyarakat Sulawesi Tengah khususnya Poso mengecam keras terjadinya peristiwa membuang tembakan ke udara secara beruntun oleh Brimbob Kelapa Dua dan Batalyon Kavaleri TNI Angkatan Darat. Tindakan itu tidak bisa ditoleransi karena menyebarkan ketakutan pada masyarakat.

“Masyarakat menuntut penarikan semua pasukan TNI dari Poso. Keberadaan Pasukan TNI di Poso sangatlah tidak tepat sebagai pasukan yang diperbantukan karena Poso tidaklah dalam situasi ancaman kerusuhan apalagi terjadinya perang,” lanjutnya.
“Kami juga mendesak untuk menyelidiki dan menindak semua aparat Polri yang nakal dan terlibat tindak kekerasan dan tidak profesional sehingga meresahkan ketenteraman warga,” ujarnya.

Direktur Yayasan Tanah Merdeka (YTM), Arianto Sangadji juga menegaskan kepada SH secara objektif pengungkapan kekerasan di Poso tidak berhasil dilakukan oleh aparat keamanan, bahkan aparat keamanan menjadi bagian pencipta kekerasan.

“Kami minta presiden segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen sebagai badan yang bertugas mengungkap fakta objektif atas berbagai aksi teror yang telah terjadi,” tegasnya.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/11/sh02.html

h1

Kapolres Poso Ditembak Orang Tak Dikenal

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Aksi penembakan misterius di Poso, Sulawesi Tengah, semakin menjadi-jadi. Kini yang jadi sasaran tembak bukan hanya warga sipil tapi justru pimpinan kepolisian setempat. Rabu (25/1) sekitar pukul 04.30 Wita, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Poso, AKBP Rudi Sufahriadi ditembak orang tak dikenal.

Penembakan terjadi di perempatan Jalan Pulau Sumatera dan Pulau Natuna, Kelurahan Gebang Redjo, Kecamatan Poso Kota, saat hendak berangkat ke masjid. Namun ia tidak mengalami luka atau cedera sedikitpun.

Rudi ketika dihubungi SH pagi tadi membenarkan kejadian tersebut. “Cuma gelagah mesiu yang terkena di kuping saya. Saya masih dilindungi Allah. Buktinya saya sekarang masih bisa bicara dengan Anda,” ujar Rudi.

Ia mengatakan penembaknya dua orang dengan mengendarai sepeda motor, dan identitasnya sudah diketahui. Saat berita ini diturunkan, polisi sudah melakukan penyisiran dan langsung memblokir pintu keluar-masuk Kota Poso.

Sekretaris Forum Silaturahim dan Perjuangan Umat Islam (FSPUI) Poso, Syarifullah Djafar, mengaku terkejut mendengar kabar itu.

“Untung beliau bisa selamat dari aksi penembakan itu,” kata Lili, panggilan akrab Syarifullah Djafar yang juga tokoh Islam Poso itu.

Penembakan pada Rabu dini hari itu mengejutkan banyak orang. Sebab setelah terjadi kasus penembakan terhadap Ivonne Malewa (17) dan Sitti Nuraini (17) pada Selasa (8 November 2005), Kota Poso sudah dalam kondisi kondusif.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/25/sh03.html

h1

Lagi, Mabes Polri Kirim 199 Polisi ke Poso

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Menyusul meningkatnya ketegangan antara warga dengan aparat kepolisian di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Mabes Polri mengirimkan tambahan 199 personel kepolisian ke daerah konflik tersebut.

Sebagian personel itu, Kamis (11/5), telah tiba di Palu dengan penerbangan reguler. Hari Jumat (12/5) ini merupakan batas akhir kedatangan personel Mabes Polri itu. Setelah menerima pembekalan, mereka akan diberangkatkan ke Poso.

“Tambahan personel kepolisian ini sebagian besar berasal dari Kepolisian Daerah Jawa Barat. Mereka terdiri dari berbagai kesatuan mulai dari pamapta hingga reserse dan kriminal,” kata Kepala Biro Personalia Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Nurfala, Kamis (11/5) siang.

Dia menjelaskan seluruh tambahan personel ini akan menjadi anggota organik kepolisian resor khusus Poso. Ia juga menyatakan bahwa Polressus Poso masih memerlukan tambahan personel hingga 2.000 orang.

Sejauh ini, sejumlah pasukan bawah kendali operasi (BKO) dari Markas Komando B Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, juga masih tetap memperkuat pengamanan di Poso.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/12/sh11.html

h1

Poso Tegang: Dua Sepeda Motor Polisi Dibakar

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Poso – Situasi Kota Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Senin (8/5) pagi sekitar pukul 05.20 Waktu Indonesia Tengah (Wita) kembali tegang menyusul pembakaran dua sepeda motor milik dua anggota Kepolisian Resort Poso oleh puluhan warga Lawanga, Kecamatan Poso.

Kejadian berawal ketika anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri berupaya menangkap Taufik Bulaga, warga setempat. Usai salat Subuh, sejumlah anggota Densus 88 bersama Ketua RT setempat mendatangi kediaman Taufik untuk menangkap yang bersangkutan.

Suasana menegang karena pihak keluarga menolak atas penangkapan Taufik karena dinilai belum jelas. ”Kami memprotes tim Densus 88. Mereka jangan sembarangan menangkap orang. Kami harus tahu dulu apa salah Taufik. Jangan langsung main tangkap,” tegas Badi Bulaga, kakak kandung Taufik.

Ribut-ribut di rumah keluarga Bulaga itu mengundang perhatian sedikitnya 100 warga setempat. Mereka makin marah ketika mengetahui pihak Densus 88 akan menangkap Taufik.

Mereka pun protes dan mengejar dua anggota polisi. Karena panik, kedua polisi itu melarikan diri dengan meninggalkan dua sepeda motor.

Kemarahan warga dilampiaskan dengan membakar kedua sepeda motor itu. Namun dalam kejadian ini polisi tidak bertindak represif. Mereka hanya mengangkut bangkai motor yang terbakar itu.

Kepala Kepolisian Resor Poso, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Rudi Sufahriadi langsung mengumpulkan anak buahnya usai kejadian itu. ”Hingga kini saya masih memberikan pengarahan kepada anggota. Insiden ini memang benar terjadi dan masih kami selidiki,” katanya ketika dihubungi SH melalui telepon selularnya, Senin (8/5) pagi.***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/08/sh02.html