Arsip untuk September 27th, 2007

h1

Ustaz Sahl Dibebaskan: Ribuan Warga Masih Duduki DPRD Poso

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu — Setelah ribuan warga menduduki Gedung DPRD Poso sebagai protes ditangkapnya Ustaz Sahl Alamri oleh Detasemen Khusus Anti-Teror 88 Mabes Polri, maka Sahl yang diduga terkait dengan teroris Noordin M Top itu dibebaskan Rabu (15/2) sore.

Meski demikian, pihak keluarga dan ribuan warga sampai Kamis (16/2) pagi ini masih menduduki Gedung DPRD Poso, karena belum yakin perihal pembebasan itu, kecuali setelah melihat Sahl. Selain itu, mereka masih menuntut agar Ipong dan Yusuf, dua tersangka terorisme lainnya dibawa kembali ke Poso.

Soal pembebasan Sahl diungkapkan oleh Komandan Operasi Keamanan Sulawesi Tengah, Inspektur Jenderal Paulus Purwoko kepada wartawan, Kamis (16/2) pagi.

”Demi hukum dan karena tidak cukup bukti terkait terorisme, yang bersangkutan dibebaskan. Sejak kemarin sebenarnya yang bersangkutan akan segera kita bawa lagi ke Poso, namun kemarin ia meminta untuk menjenguk saudaranya di Semarang,” sebut Paulus yang juga Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri ini.

Ia juga menegaskan pembebasan Sahl tidak terkait dengan tuntutan warga yang dimotori oleh Forum Silahturahim dan Perjuangan Umat Islam Poso (FSPUI), salah satu organisasi massa Islam terbesar di kota itu. ”Pembebasan Sahl murni karena hukum setelah dalam penyelidikan polisi tidak ditemukan unsur yang mengaitkan bersangkutan dengan tindak terorisme,” imbuh Paulus.

Kadiv Humas Mabes Polri itu pun mempersilakan jika pihak keluarga ingin mengajukan gugatan praperadilan atas polisi dalam hal ini Densus 88/AT, yang menangkap Sahl, apabila dinilai penangkapan itu tidak prosedural.

Sementara itu, Ustaz Syarifullah Djafar dari FSPUI dan mewakili keluarga, juga membenarkan pembebasan ustaz yang mengajar di Pesantren Alamanah, Tanah Runtuh, Poso itu. ”Saya sudah menelepon Ustaz Sahl, katanya untuk sementara waktu ini ia beristirahat dulu di rumah mertuanya di Semarang,” kata Ustaz Syarifullah kepada SH, Kamis (16/2) pagi via telepon selular.

Ustaz Sahl ditangkap Densus 88 saat akan mengantar minyak tanah ke pelanggannya di Jalan Pulau Irian Jaya, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota, Kamis (9/2) pekan lalu. Sehari-harinya, ia memang menjalani profesi sebagai pengecer minyak tanah. Saat itu, Sahl langsung dibawa ke Mabes Polri untuk dipertemukan dengan Subur Sugiyanto alias Abu Mujahid yang telah ditangkap beberapa waktu lalu di Semarang, Jawa Tengah, karena diduga menjadi salah seorang kepercayaan Noordin M Top.

Bahkan Kabareskrim Mabes Polri Komjen Makbul Padmanegara dalam laporannya ke Komisi III DPR menyatakan bahwa Sahl diduga juga sebagai anggota Jamaah Islamiyah (JI). Ia dikirim ke Poso tahun 2000 dari Wakalah JI di Jawa Tengah. Dalam penyelidikan polisi, semua sangkaan itu tidak terbukti. Diakui Sahl, ia pernah bertemu dengan Subur, namun tidak tahu jika yang bersangkutan adalah anggota JI ataupun orang kepercayaan Noordin.

Meski sudah dibebaskan, tetap ada yang aneh dalam kasus ini. Semestinya sesuai UU Terorisme, Sahl baru dibebaskan Kamis (16/2) menepati tenggat waktu 7 x 24 jam, namun dari keterangan polisi, yang bersangkutan telah resmi dibebaskan sejak Rabu (15/2) sore.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0602/16/sh10.html

h1

Kasus Korupsi Dana Pengungsi Poso: Tersangka Kemungkinan Bertambah

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Maya Handini [Sinar Harapan]

Palu – Jumlah tersangka kasus korupsi dana kemanusiaan pengungsi Poso untuk jenis bantuan bahan baku rumah (BBR) tahun 2003-2005, sebesar Rp 6,4 miliar, kemungkinan akan bertambah, bila lima tersangka yang kini diperiksa di Mabes Polri Jakarta dan sejumlah saksi menyebutkan nama-nama lain dan ditemukan bukti-bukti baru.

Kelima tersangka adalah Andi Azikin Suyuti (mantan penjabat Bupati Poso), Ivan Sijaya, Hi Agus, Arif Mubin Radjadewa dan Kahar Sidik.

Hal itu dikemukakan Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol Oegroseno dalam percakapan dengan Sinar Harapan di Palu. ”Kemungkinan besar jumlah tersangka akan bertambah, namun itu tergantung keterangan kelima tersangka yang kini tengah diperiksa di Mabes Polri. Dari hasil pemeriksaan nanti, kita akan tahu kemana saja dana itu dialirkan,” kata Oegroseno.

Namun dia menolak memastikan apakah termasuk saksi yang akan diperiksa adalah Gubernur Sulteng Aminuddin Ponulele, karena yang menangani kasus ini adalah Mabes Polri. ”Pokoknya, semua pihak yang terkait langsung dengan masalah dana kemanusiaan Poso akan diperiksa, baik sebagai saksi maupun yang sudah ditetapkan sebagai tersangka,” tegasnya.

Saat ini berkembang desas-desua di masyarakat di Palu, bahwa keberangkatan Aminuddin Ponulele ke Jakarta Senin (5/12) kemarin atas permintaan Mabes Polri untuk dimintai keterangannya. Namun sejumlah sumber di kantor gubernur mengatakan, bahwa gubernur ke Jakarta untuk kunjungan kerja. ”Tidak benar itu, keberangkatan gubernur ke Jakarta hanya semata-mata tugas, bukan dimintai keterangan oleh polisi,” kata seorang pejabat.

Keluarga Protes
Sementara itu, sebanyak 15 orang warga Poso, Senin sore tiba di Palu, dan menggelar jumpa pers. Mereka memrotes pihak kepolisian yang telah menetapkan Ismet, David dan Aksan sebagai tersangka kasus penembakan dua siswi SMEA Poso. Mereka menilai polisi telah salah menangkap orang.

Menurut orang tua Aksan, Firdaus (60), saat peristiwa penembakan itu, anaknya sedang menggendong keponakannya. Bahkan ketika terdengar bunyi tembakan ia malah menyuruhnya masuk ke dalam rumah yang hanya berjarak sekitar empat rumah dari tempat kejadian perkara, karena takut ada peluru nyasar.

Rugaiyah (39), ibu tiri Ismet, ia sangat menyesalkan tindakan polisi ini, termasuk menyita sepeda motor yang selama ini dipakai menarik ojek oleh Ismet.

Sedangkan Mandu (59), ayah David, mengungkapkan saat kejadian anaknya berada di rumahnya di Moengko. Bahkan ia sangat menyayangkan pihak rumah tahanan Maesa yang melarang dirinya ketemu dengan David yang ditahan terpisah dari Ismet dan Aksan.

“Saya cuma mau tahu kondisi anak saya bagaimana,” keluhnya.

Dilarikan ke RS
Sementara itu, tersangka pelaku kerusuhan di Poso Andi Ipong Paniras yang pekan lalu dibawa ke Jakarta bersama dengan Yunus, kini dirawat di RS. Polri Kramat Jati, dan diperkirakan dia mengalami depresi karena tak tahan menghadapi tekanan saat diperiksa oleh para penyidik yang ingin mengungkap keterlibatannya dalam sejumlah aksi kejahatan di Poso.

Saat hal ini diminta konfirmasi kepada Wakadis Humas Mabes Polri Brigjen Soenarko, dia menjawab belum mengetahuinya hal ini. ”Saya belum tahu tersangka dibawa ke rumah sakit nanti akan saya cari tahu. Sepengetahuan saya dia masih berada di salah satu sel tahanan Mabes Polri, akan saya konfirmasikan dahulu kebenaran tersebut” katanya Selasa (06/12) pagi.***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/06/sh06.html

h1

Presiden Mengutuk: Palu Kembali Diguncang Bom, 7 Orang Tewas

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Mega Christina/Norman Meoko [Sinar Harapan]

Palu – Tujuh orang tewas dan 40 lainnya luka-luka menyusul ledakan bom mengguncang tempat pemotongan dan penjualan daging babi di Jalan Sulawesi Maesa, Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (31/12) pagi pukul 07.10 Wita.

Korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Bala Keselamatan Palu, Rumah Sakit Polri Bhayangkara, Rumah Sakit Budi Agung, serta Rumah Sakit Oendata.

Korban tewas yang sudah teridentifikasi di antaranya suami-istri penjual daging babi, Yopie (43) dan Ny. Mei (39), Akiang, dan seorang pembeli bernama Bambang (40).

Saksi mata, Naturanda, yang rumahnya hanya berjarak 10 meter dari pasar tersebut menuturkan, ledakan itu cukup keras dan saat ia keluar rumah mendapati korban Bambang sudah tergeletak di tanah. Begitu juga dengan Yopie dan Ny. Mei.

“Saya punya barang-barang di atas lemari jatuh semua, dan anak-anak saya menjerit menangis ketakutan,” tuturnya. Adrie (42), saksi mata lainnya mengatakan bom di pasar daging babi satu-satunya di Kota Palu itu meledak saat umat Kristiani ramai membeli daging babi untuk kebutuhan Tahun Baru.

Satu Belum Meledak
Dia menyatakan tidak menyangka kalau ada orang yang berhasil menyelinap dan meledakkan bom di kawasan itu.

Ketika bom meledak para pedagang dan pembeli berhamburan menyelamatkan diri meninggalkan daging babi berserakan di meja dagangan dan lantai kios masing-masing.

Adrie mengaku meja dagangannya kebetulan berdekatan dengan Yopie, salah seorang korban yang meninggal akibat terkena serpihan bom.

Tim Jihandak Brimob Polda Sulteng yang melakukan penyisiran menemukan sebuah bom rakitan yang belum meledak sekitar empat meter dari tempat kejadian perkara (TKP). Kapolda Sulteng, Brigjen Oegroseno dan Kapolresta Palu, Ajun Komisaris Besar Guntur Widodo, langsung menuju ke lokasi dan memimpin langsung operasi pengamanan.

Puluhan aparat kepolisian dari berbagai kesatuan sudah menutup lokasi kejadian agar tidak mengganggu tindakan penyelidikan. Kapolri Jenderal Sutanto langsung terbang ke Palu, Sabtu pagi ini.

Sejumlah pejabat di Provinsi Sulawesi Tengah juga langsung menuju TKP, termasuk Gubernur Sulawesi Tengah, Aminuddin Ponulele, Wali Kota Palu, Rusdi Mastura dan Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Sulawesi Tengah, Azis M Godal.

Tingkatkan Kewaspadaan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sangat menyesalkan dan sangat mengutuk tindakan pengeboman di Palu. Pada kesempatan itu Presiden juga menyampaikan belangsukawa atas kejadian yang menimpa para korban.

“Presiden memerintahkan untuk melakukan pengusutan pengeboman ini dan kaitannya jika ada dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Presiden juga meminta aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan dalam rangka tahun baru ini,” kata juru bicara Presiden, Andi Malarangeng dalam jumpa pers di kompleks Istana Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Sabtu pagi ini.

Menurut Andi, Presiden mendapat laporan dari Kapolri Jenderal Sutanto pada pukul 07.10 WIB tadi. Saat itu dilaporkan korban tewas tercatat empat orang, luka-luka lima orang dan sejumlah korban lain luka ringan.

“Jumlah korban tergantung perkembangan situasi, tetapi kita harapkan mudah-mudahan tidak bertambah lagi,” kata Andi. Presiden juga memerintahkan untuk mengambil langkah-langkah penyelamatan terutama bagi korban yang luka berat dan luka ringan. Kepala Negara juga meminta identifikasi korban yang tewas.

PGI Prihatin
Menyikapi kejadian itu, Wakil Sekretaris Umum PGI Pdt Weinata Sairin yang dihubungi SH, Sabtu pagi menyatakan sangat menyesalkan dan mengecam kejadian pengeboman di Palu tersebut. ”Kami sangat prihatian dengan kejadian itu padahal baru saja umat Kristiani menikmati kenyamanan perayaan Natal, tapi kemudian terjadi lagi aksi pengeboman di Palu ini,” katanya.

Dia meminta aparat keamanan mengusut tuntas kasus pengeboman di tempat pemotongan dan penjualan daging babi di Palu tersebut. Pengusutan itu penting untuk menghilangkan citra yang berkembang bahwa daerah Palu, Poso serta sejumlah daerah lainnya sengaja ”dipelihara” oleh pihak-pihak tertentu.

”Aparat keamanan harus mampu membuktikan bahwa tidak ada image itu,” tegasnya.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/31/sh01.html

h1

Ciuman Terakhir Sang Istri Prajurit

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Web Warouw [Sinar Harapan]

Palu—Bom yang meledak di Kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (31/12) tahun lalu, tak cuma menyasar warga sipil. Seorang anggota TNI Angkatan Darat, Sersan Kepala Tasman Lahansang dan istrinya, Poste Dinamanis yang pegawai sipil TNI AD, juga menjadi korban kebiadaban pelaku peledakan bom di pengujung tahun 2005 itu.

Awan duka pun menyelimuti jajaran Korem 132 Tadulako tempat mendiang bertugas. Suasana haru mewarnai rumah duka saat Panglima Kodam VII/Wirabuana, Mayor Jenderal TNI Arif Budi Sampurno melepas keberangkatan jenazah prajurit TNI AD itu bersama istrinya. Minggu (1/1) siang, jenazah mereka diterbangkan ke tanah kelahirannya, Sangir Talaud, Sulawesi Utara.

Keduanya terkena serpihan bom saat sedang berbelanja di pasar daging musiman itu, dan setelah itu sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawa mereka tak tertolong.

Di Sabtu pagi itu, dengan berboncengan mereka menuju pasar daging khusus di Jalan Sulawesi, Kelurahan Lolu, Palu Utara, Sulteng. Biasanya, mereka membawa serta kedua anaknya. Tapi kali ini hanya mereka berdua.

Pelukan Terakhir
Menurut penuturan Nurhayati (34), tetangganya, pada Natal 25 Desember lalu semua orang yang berkunjung diminta oleh Poste Dinamanis untuk mencium dan memeluknya.

Tetapi siapa sangka, itu adalah ciuman dan pelukan terakhir Poste kepada para tetangga dan kawan-kawannya.
Istri Pak Tasman suka tertawa. Dia suka melucu. Kita nyaman kalau ada di dekatnya. Dia sangat baik. Makanya, waktu Natal kemarin kita rame-rame ke rumahnya,î tutur Nurhayati.

Keduanya, meninggalkan dua anak, anak tertuanya Jerry Wiranto (12) dan Deddy Rivaldy (6). Sehari-harinya Tasman bertugas sebagai Komandan Unit II Tim Intelijen Korem 132 Tadulako. Sementara, Poste Dinamanis adalah pegawai sipil di komando resor yang sama, di mana Tasman berdinas. Rupanya cinta mereka bersemi di sana.

Di mata para tetangga di kompleks perumahan Korem di Jalan Jenderal Sudirman, Palu Timur itu, mendiang suami-istri ini dikenal kompak dan sangat ramah. ìSaya tidak pernah dengar dia ada baku salah paham dengan orang.

Dengan komandannya pula tidak pernah ada masalah. Ini orang sangat baik menurut ukuran saya,î tutur Sersan Kepala M Yasin, Komandan Unit I Tim Intelijen Korem 132 Tadulako yang telah mengenal Tasman sejak 1986.

Tasman, menurut Yasin, sangat pendiam, bicara yang perlu-perlu saja. Tapi jangan disangka, ia tidak bisa melucu. Di lapangan dalam keseharian tugasnya, dalam kondisi apapun ia tidak pernah melupakan untuk menghubungi istrinya. Sewaktu-waktu, jika istrinya keluar dialah yang selalu menemani.

ìPak Tasman, orang yang sangat perhatian pada keluarganya. Makanya saya terpukul dan tidak bisa menahan tangis saya ketika melihat dua anak yang ditinggalkannya itu,î tutur Yasin.

Dari Sangir Talaud
Tasman Lahansang lahir di Sangir Talaud, 27 November 1965. Tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun 1984, lalu memilih masuk ke Sekolah Calon Tamtama TNI AD dan lulus pada 1987 dengan pangkat Prajurit Dua.

Semangatnya untuk terus maju begitu menggelora. Sehingga ia kembali menamatkan Sekolah Calon Bintara (Secaba) pada tahun 1994. Sampai kemudian menjadi Komandan Unit II Tim Intelijen Korem 132 Tadulako, setelah sebelumnya pernah menjadi tamtama operator radio sistem komunikasi di Batalyon Infanteri Raksatama 711 Palu.

Sedangkan Poste Dinamanis, istrinya yang juga sepupunya, lahir di Sangir Talaud, 11 September 1963. Ayah Tasman dan Poste bersaudara.

Kepergian mereka benar-benar tragis. Apalagi dua anaknya sampai kini masih juga belum paham benar bahwa kedua orang tua mereka telah dipanggil Tuhan. Deddy, anak nomor dua, mengatakan ibunya sedang pergi berbelanja di pasar.

Jawaban lugu dari bocah itu, tak urung selalu memecah tangis sanak saudara dan orang-orang yang melihatnya. Ia tidak paham kedua orang tuanya tidak akan pernah kembali lagi.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/02/sh04.html

h1

Aparat di Poso Tak Ciptakan Keamanan

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati/Web Warouw [Sinar Harapan]

Palu – Teror bom yang masih terus terjadi di Poso, termasuk bom di depan Kantor Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Poso dan peristiwa membuang tembakan beruntun ke udara oleh Satuan Brigade Mobil (Brimbob) Kelapa Dua dan Batalyon Kavaleri TNI Angkatan Darat, menunjukkan keberadaan aparat keamanan di Poso tidak menciptakan keamanan, tapi justru sebaliknya.

Ulah itu dinilai oleh Poso Center, aliansi dari 25 organisasi nonpemerintah, sebagai tindakan keterlaluan. Karena itu mereka meminta TNI ditarik dari Poso dan anggota Brimob yang terlibat aksi itu ditindak.

“Aparat telah menjadi bagian konflik yang justru mendestabilitasi situasi, mengancam keselamatan masyarakat, menciptakan ketakutan dan keresahan yang meluas,” tegas Koordinator Poso Center, Yusuf Lakaseng kepada SH, Rabu (11/1).

Menurutnya, keberadaan pasukan TNI di Poso sangat tidak tepat sebagai pasukan yang diperbantukan, karena Poso tidaklah dalam situasi ancaman kerusuhan apalagi terjadi perang. Lakaseng meminta keamanan Poso sepenuhnya ditangani Polri yang profesional dan berkualitas sebagai penjaga keamanan, mengungkapkan serta mencegah teror.

Jangan Terprovokasi
Kepada masyarakat, ia meminta tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh upaya-upaya sistematis yang terus digalakkan untuk memprovokasi masyarakat.

Kapolres Poso, AKBP Rudi Sufahriadi menyatakan telah melakukan pembinaan terhadap anggota polisi yang terlibat aksi itu, dan telah mengadakan pertemuan dengan pimpinan TNI AD. “Jadi ini hanya masalah kesalapahaman antaroknum aparat keamanan dan kami sudah selesaikan masalahnya,” kata Rudi.

Senin (9/1) pukul 18.30, Batalyon Kavaleri yang di bawah kendali operasi (BKO) di Kodim 1307 Poso menggelar razia di pertigaan Tugu Kota, Jalan Pulau Sumatera, Poso Kota. Tiba-tiba datang seorang anggota Brimob mengendarai sepeda motor dan tak berseragam. Karena tidak tahu itu anggota Brimob, mereka pun menahannya. Anggota Brimob marah dan terjadilah cekcok.

alu, anggota Yonkav tadi melaporkan hal itu ke komandannya. Dan terjadilah aksi saling membuang tembakan itu, saat sekitar 10 anggota Yonkav mendatangi Mapolres dan Hotel Alamanda.

Selain itu, terjadi pula ledakan di depan Kantor Satgas Penanganan Poso di Jalan Pulau Timor, Kelurahan Gebang Redjo, Poso Kota, di depan Kantor Bupati Poso. Kejadian ini tidak menimbulkan korban jiwa dan kerusakan material. Dari saksi mata diperoleh keterangan sebelum peledakan bom, dua orang mengendarai motor terlihat berhenti, lalu tak lama kemudian setelah mereka meninggalkan tempat itu sebuah bom meledak. Ledakan ini meninggalkan lubang berdiameter sekitar 15 centimeter.

Tak berapa lama kemudian, tim Penjinak Bahan Peledak (Jihandak) Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah datang ke lokasi dan melakukan penyisiran. Mereka menemukan sebuah botol minuman energi merek Supradyn dan uang logam pecahan Rp 200. Diduga kedua benda itu merupakan wadah dan penyumbat wadah bom ini.

Selasa (10/1) malam, Kapolda Sulteng, Brigjen Oegroseno terlihat bersama Kapolres Poso AKBP, Rudi Sufahriadi. Kapolda Oegroseno memang berada di Poso sehari sebelum peledakan bom itu.

Gerak Pelaku
Kepala Divisi Humas Mabes Polri yang juga Komandan Komando Operasi Keamanan Sulawesi Tengah, Irjen Paulus Purwoko, di Palu mengatakan polisi tengah menyelidiki apakah ledakan itu bom atau mercon. Meski demikian, pihaknya telah memerintahkan polisi menggelar razia untuk mempersempit ruang gerak pelaku.

Sumber SH di kepolisian menyatakan pelaku teror itu memanfaatkan situasi karena pembentukan Satgas Poso mendapat penolakan dari masyarakat Poso karena dinilai tidak efektif.

Pada Selasa (10/1) malam, teror bom mengejutkan warga di sekitar Kelurahan Besusu Barat, Palu Timur. Sebuah rangkaian kabel dengan lampu LED yang berkedip-kedip dan diletakkan di tepi Pantai Talise membuat warga ketakutan. Namun setelah diselidiki oleh Tim Jihandak, lampu LED yang berkedip-kedip itu adalah rangkaian PCB walkman yang disambung dengan adaptor listrik 220 Volt.

Tak Bisa Ditoleransi
Koordinator Poso Center, Yusuf Lakaseng, mengungkapkan masyarakat Sulawesi Tengah khususnya Poso mengecam keras terjadinya peristiwa membuang tembakan ke udara secara beruntun oleh Brimbob Kelapa Dua dan Batalyon Kavaleri TNI Angkatan Darat. Tindakan itu tidak bisa ditoleransi karena menyebarkan ketakutan pada masyarakat.

“Masyarakat menuntut penarikan semua pasukan TNI dari Poso. Keberadaan Pasukan TNI di Poso sangatlah tidak tepat sebagai pasukan yang diperbantukan karena Poso tidaklah dalam situasi ancaman kerusuhan apalagi terjadinya perang,” lanjutnya.
“Kami juga mendesak untuk menyelidiki dan menindak semua aparat Polri yang nakal dan terlibat tindak kekerasan dan tidak profesional sehingga meresahkan ketenteraman warga,” ujarnya.

Direktur Yayasan Tanah Merdeka (YTM), Arianto Sangadji juga menegaskan kepada SH secara objektif pengungkapan kekerasan di Poso tidak berhasil dilakukan oleh aparat keamanan, bahkan aparat keamanan menjadi bagian pencipta kekerasan.

“Kami minta presiden segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) independen sebagai badan yang bertugas mengungkap fakta objektif atas berbagai aksi teror yang telah terjadi,” tegasnya.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/11/sh02.html

h1

Kapolres Poso Ditembak Orang Tak Dikenal

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Aksi penembakan misterius di Poso, Sulawesi Tengah, semakin menjadi-jadi. Kini yang jadi sasaran tembak bukan hanya warga sipil tapi justru pimpinan kepolisian setempat. Rabu (25/1) sekitar pukul 04.30 Wita, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Poso, AKBP Rudi Sufahriadi ditembak orang tak dikenal.

Penembakan terjadi di perempatan Jalan Pulau Sumatera dan Pulau Natuna, Kelurahan Gebang Redjo, Kecamatan Poso Kota, saat hendak berangkat ke masjid. Namun ia tidak mengalami luka atau cedera sedikitpun.

Rudi ketika dihubungi SH pagi tadi membenarkan kejadian tersebut. “Cuma gelagah mesiu yang terkena di kuping saya. Saya masih dilindungi Allah. Buktinya saya sekarang masih bisa bicara dengan Anda,” ujar Rudi.

Ia mengatakan penembaknya dua orang dengan mengendarai sepeda motor, dan identitasnya sudah diketahui. Saat berita ini diturunkan, polisi sudah melakukan penyisiran dan langsung memblokir pintu keluar-masuk Kota Poso.

Sekretaris Forum Silaturahim dan Perjuangan Umat Islam (FSPUI) Poso, Syarifullah Djafar, mengaku terkejut mendengar kabar itu.

“Untung beliau bisa selamat dari aksi penembakan itu,” kata Lili, panggilan akrab Syarifullah Djafar yang juga tokoh Islam Poso itu.

Penembakan pada Rabu dini hari itu mengejutkan banyak orang. Sebab setelah terjadi kasus penembakan terhadap Ivonne Malewa (17) dan Sitti Nuraini (17) pada Selasa (8 November 2005), Kota Poso sudah dalam kondisi kondusif.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/25/sh03.html

h1

Lagi, Mabes Polri Kirim 199 Polisi ke Poso

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Menyusul meningkatnya ketegangan antara warga dengan aparat kepolisian di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng), Mabes Polri mengirimkan tambahan 199 personel kepolisian ke daerah konflik tersebut.

Sebagian personel itu, Kamis (11/5), telah tiba di Palu dengan penerbangan reguler. Hari Jumat (12/5) ini merupakan batas akhir kedatangan personel Mabes Polri itu. Setelah menerima pembekalan, mereka akan diberangkatkan ke Poso.

“Tambahan personel kepolisian ini sebagian besar berasal dari Kepolisian Daerah Jawa Barat. Mereka terdiri dari berbagai kesatuan mulai dari pamapta hingga reserse dan kriminal,” kata Kepala Biro Personalia Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Nurfala, Kamis (11/5) siang.

Dia menjelaskan seluruh tambahan personel ini akan menjadi anggota organik kepolisian resor khusus Poso. Ia juga menyatakan bahwa Polressus Poso masih memerlukan tambahan personel hingga 2.000 orang.

Sejauh ini, sejumlah pasukan bawah kendali operasi (BKO) dari Markas Komando B Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, juga masih tetap memperkuat pengamanan di Poso.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/12/sh11.html

h1

Poso Tegang: Dua Sepeda Motor Polisi Dibakar

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Poso – Situasi Kota Poso, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Senin (8/5) pagi sekitar pukul 05.20 Waktu Indonesia Tengah (Wita) kembali tegang menyusul pembakaran dua sepeda motor milik dua anggota Kepolisian Resort Poso oleh puluhan warga Lawanga, Kecamatan Poso.

Kejadian berawal ketika anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri berupaya menangkap Taufik Bulaga, warga setempat. Usai salat Subuh, sejumlah anggota Densus 88 bersama Ketua RT setempat mendatangi kediaman Taufik untuk menangkap yang bersangkutan.

Suasana menegang karena pihak keluarga menolak atas penangkapan Taufik karena dinilai belum jelas. ”Kami memprotes tim Densus 88. Mereka jangan sembarangan menangkap orang. Kami harus tahu dulu apa salah Taufik. Jangan langsung main tangkap,” tegas Badi Bulaga, kakak kandung Taufik.

Ribut-ribut di rumah keluarga Bulaga itu mengundang perhatian sedikitnya 100 warga setempat. Mereka makin marah ketika mengetahui pihak Densus 88 akan menangkap Taufik.

Mereka pun protes dan mengejar dua anggota polisi. Karena panik, kedua polisi itu melarikan diri dengan meninggalkan dua sepeda motor.

Kemarahan warga dilampiaskan dengan membakar kedua sepeda motor itu. Namun dalam kejadian ini polisi tidak bertindak represif. Mereka hanya mengangkut bangkai motor yang terbakar itu.

Kepala Kepolisian Resor Poso, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Rudi Sufahriadi langsung mengumpulkan anak buahnya usai kejadian itu. ”Hingga kini saya masih memberikan pengarahan kepada anggota. Insiden ini memang benar terjadi dan masih kami selidiki,” katanya ketika dihubungi SH melalui telepon selularnya, Senin (8/5) pagi.***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0605/08/sh02.html

h1

Dari Simposium Pemuda di Palu: Cari Penyelesaian Konflik secara Damai dan Beradab

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Tidak kurang 250 pemuda dari berbagai provinsi di Indonesia berkumpul di Palu, Sulawesi Tengah, 30 April-1 Mei 2007 lalu. Mereka duduk berhadapan dalam satu meja di Silae Convention Hall, tepat di bibir Teluk Palu.

Para pemuda yang tergabung dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) itu bertemu untuk membicarakan bagaimana menyelesaikan konflik komunal yang masih terus terjadi di Indonesia. Mereka memusatkan perhatian pada penyelesaian konflik di Tanah Air, seperti di Poso dan Ambon. Yang menarik, pembicara utamanya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Pertemuan ratusan wakil pemuda dari seluruh Tanah Air itu, sejak awal diniati mendesak pemerintah mengeluarkan Undang-undang Resolusi Konflik untuk menjadi payung hukum yang benar-benar kuat bagi aparat untuk penyelesaian konflik dan penegakan hukum.
Ketua DPD KNPI Sulteng Hardi D Yambas mengatakan, selama ini peranan pemuda terkesan diabaikan dalam penyelesaian konflik di Indonesia. Padahal, pemuda adalah generasi penerus yang dituntut mampu menyelesaikan persoalan bangsa di masa depan, termasuk berbagai potensi konflik yang ada di masyarakat.

”Pada simposium ini banyak muncul gagasan dan pemikiran bagaimana mencegah dan mengatasi konflik yang sedang marak. Gagasan itu diharapkan melahirkan sebuah produk perundang-undangan yang khusus mengatur resolusi konflik di Indonesia,” kata Hardi.

Cara Militer Tak Bermartabat
Presiden Yudhoyono sendiri menilai penyelesaian konflik memang harus diselesaikan secara sungguh-sungguh. Sejumlah konflik di Tanah Air, kata Presiden, umumnya muncul pascareformasi, yang berkaitan dengan benturan antar-identitas. “Hal ini sejalan dengan demokratisasi dan kebebasan yang makin mekar,” jelas Presiden saat menjadi pembicara utama dalam Simposium Pemuda Nasional Indonesia (SPNI) itu.

Menurut Presiden Yudhoyono, ada lima pilar untuk resolusi konflik di Tanah Air. Kelima pilar itu adalah, pertama, mencegah konflik. Presiden menilai ini adalah jalan yang paling murah dan baik apabila berusaha tidak membiarkan konflik sekecil apa pun terjadi terkait dengan soal identitas.

Presiden menilai jalan penyelesaian konflik dengan pengerahan militer bukan cara tepat dan bermartabat, karena sudah pasti akan ada jatuh korban jiwa. Jadi, pilar keduanya adalah menyelesaikan konflik dengan jalan damai dan beradab.
Pilar ketiga, menurut Presiden adalah tidak ada negosiasi tanpa memberi dan menerima. atau dengan kata lain adanya kompromi. Dan yang keempat, adalah adanya kepemimpinan.

Tidak cukup sampai di situ, setelah semuanya selesai dikelola, yang terakhir yang menjadi pilar kelimanya adalah manajemen pascakonflik.

“Setelah berhasil menyelesaikan konflik yang berkecamuk, langkah selanjutnya adalah pengelolaan pascakonflik. Rekonstruksi menjadi sangat penting,” imbuh Presiden.

Inpres Poso
Menyahuti keinginan peserta simposium agar pemerintah menerbitkan UU Resolusi Konflik, Presiden menyatakan akan segera mengeluarkan Instruksi Presiden untuk mempercepat proses pemulihan serta pembangunan di daerah pascakonflik, utamanya di Poso.

Inpres tersebut berisi model serta pola penangnanan Poso secara menyeluruh, baik dalam sektor pembangunan, keamanan, maupun yang lainnya. ”Inpres penanganan Poso akan saya terbitkan,” tegas Presiden yakin bahwa potensi mengelola konflik secara beradab ada pada tokoh-tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh adat, serta pejabat pemerintah daerah. Ia berharap potensi tersebut termanifestasikan dengan baik.

Menurut M Ichsan Loulemba, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Sulawesi Tengah, masalah Poso dan sejumlah daerah pascakonflik lainnya memang harus diselesaian secara integral, komprehensif, dan berkelanjutan.

“Presiden Yudhoyono perlu memberikan mandat bagi pembentukan badan khusus yang mengoordinasikan berbagai sektor pemerintahan sekaligus berfungsi sebagai penghubung dan supervisi antara pemerintah pusat dan daerah,” ujar Ketua Kaukus Daerah Konflik dan Pasca-Konflik DPD RI itu.

Pembentukan badan khusus semacam Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias, menurutnya, adalah alternatif solusi. ”Sudah tiga Pansus Poso di DPR, juga sudah berganti empat presiden, namun masalah Poso belum juga selesai. Masing-masing pihak tidak boleh lagi berjalan sendiri,” ujarnya.

Nantinya, Imbuh Ichsan lagi, badan serupa ini bisa untuk menangani daerah-daerah bekas konflik lainnya di Indonesia, semisal Maluku dan Maluku Utara.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/03/nas08.html

h1

Flu Burung: Di Palu Meluas, Di Bali Meninggal Dunia

September 27, 2007

Cinta Malem Ginting/Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Jakarta – Satu lagi, pasien terduga (suspect) flu burung di Bali meninggal dunia. ASN (28), warga Banjar Batugaeng, Beraban, Tabanan, Selasa (21/8), sekitar pukul 14.00, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) Sanglah, Denpasar.

Sementara itu, kasus flu burung di Palu, Sulawesi Tengah, kian meluas. Hari ini tercatat tujuh kelurahan di tiga kecamatan positif flu burung. Ketiga kecamatan itu adalah Kecamatan Palu Selatan, Palu Timur dan Palu barat. Merebaknya virus flu burung ini karena ada laporan warga yang ayamnya mati mendadak. secara serentak.

Peristiwa yang memakan korban jiwa di Bali ini merupakan kali ketiga terjadi di Bali dalam kurun waktu sepekan ini. Peristiwa pertama terjadi beberapa hari lalu dengan korban jiwa Dian (5) warga Negara, Jembrana. Tak berselang lama, ibu Dian, yakni Ni Putu Sri Widiani (29), juga meninggal karena diduga terjangkit flu burung.

Keterangan yang berhasil dihimpun SH menyebutkan korban ASN kesehariannya sebagai seorang pengepul ayam di Kediri, Tabanan. Sebelum dirujuk ke RS Sanglah Denpasar, ASN sempat dirawat di RSUD Tabanan, Senin (20/8) siang. Berdasarkan hasil pemeriksaan di RS Sanglah, kondisi tubuh ASN sudah mengalami kerusakan 3/4 paru-paru, tekanan darah hanya mencapai 80/60.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bali, Dewa Ketut Oka secara terpisah mengatakan, peristiwa ini belum dapat membuat Bali masuk kategori sebagai daerah dengan kejadian luar biasa (KLB) flu burung. Hal ini mengingat belum adanya hasil pemeriksaan sampel darah korban. “Kita (Bali) belum KLB flu burung,” papar Oka.

Kondisi Palu
Guna mengantisipasi meluasnya flu burung, Dinas Pertanian Kehutanan dan Kelautan Kota Palu (Distanhutlut) melakukan pemeriksaan, pemusnahan, dan penyemprotan di lokasi ditemukannya unggas yang mati mendadak tersebut. Menurut Kepala Bidang Peternakan Distanhutlut Lukman, merebaknya virus ini disebabkan pengawasan lalulintas unggas yang mulai melemah setelah kasus flu burung pertama kali terjadi di Kota Palu tahun 2006.

“Upaya kita saat ini selain melakukan penyemprotan dan pemusnahan, kita juga mulai memperketat masuknya unggas di wilayah Kota Palu. Selain itu kami juga menghimbau kepada masyarakat untuk peran aktifnya melaporkan jika ada ayamnya yang tiba-tiba mati mendadak,”ujar Lukman.

Sejauh ini sebanyak 1.677 unggas telah dimusnakan oleh dinas berwenang. Kasus flu burung ini ditemukan pada burung puyuh dan ayam kampung. Sementara hasil pemeriksaan dinas terkait kesejumlah peternakan ayam potong belum ditemukan kasus flu burung.

ementara itu, dua pasien atas nama Aan Yusril Isa 2 tahun dan Dahniar 49 tahun, diduga terduga flu burung dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Undata Palu, Sulawesi Tengah. namun setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif keduanya dinyatakan negatif.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0708/22/kesra02.html

h1

Pantai Talise, Wisata di Tengah Kota Palu

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Palu – Pantai Talise di Kota Palu, Sulawesi Tengah, sejak tahun 1990-an hingga 2000, identik dengan tempat transaksi seks. Seiring terbenamnya matahari di bagian barat Kota Palu, di saat itu pula mulai berdiri warung remang-remang yang menambah keyakinan pengunjung bahwa pemilik warungnya juga menyediakan wanita-wanita penghibur.

Maka tak heran, hampir setiap malam antrean kendaraan roda dua maupun empat memenuhi Pantai Talise. Mereka datang tak sekadar untuk menikmati minuman tradisional seperti sarabba (air jahe dicampur sedikit santan dan susu), pisang goreng, pisang gepe (pisang bakar dibumbui keju atau gula merah) dan jagung bakar, tapi juga untuk mencari wanita penghibur.

Pemerintah Kota Palu menilai situasi itu tak bisa dibiarkan terus-menerus. Apalagi, letak Pantai Talise di tengah kota sehingga membuat kesan negatif bagi tamu yang datang ke Kota Palu. Maka kemudian Pemerintah Kota Palu melarang para wanita penghibur beroperasi di Pantai Talise ini.

Razia pun dilakukan. Satu-per satu pekerja seks komersial (PSK) ditangkap dan dibina di Panti Sosial Kalukubula.

khirnya, Pantai Talise bersih dari warung remang-remang, dan yang ada hanya warung yang menjual aneka minuman dan makanan khas Kaili. Adapun Kaili adalah etnis asli Palu.

Kini, Pantai Talise menjadi tempat wisata malam, di mana warga dapat menikmati keindahan Teluk Palu yang berbatasan dengan Selat Makassar itu. Lampu-lampu perahu nelayan bergerak-gerak di tengah teluk karena diempas gelombang. Suasana menjadi semakin lengkap, setelah dibangunnya Jembatan Palu IV yang diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono awal Mei lalu.

Tak jauh dari Pantai Talise, hanya sekitar tiga kilometer ke arah barat, terdapat Pantai Taman Ria. Di pantai ini juga dijual makanan khas seperti kaledo (sop tulang sapi) yang dimakan dengan singkong atau nasi, uvempoi (kuah asam dari tulang sapi) yang dimakan dengan burasa (nasi santan yang dibungkus daun pisang), dan uta dada (semacam opor ayam).

Di Pantai Taman Ria juga terdapat sebuah restoran yang menyediakan menu Nusantara lengkap. Menu favoritnya ikan bakar. Di sini disediakan segala jenis ikan seperti bubara, kakap merah, baronang, sunu, dan berbagai macam ikan kualitas ekspor lainnya.

Kota Palu memang sangat indah. Kota ini dikenal dengan “Kota Tiga Dimensi”, karena ada Teluk Palu yang indah, dikelilingi pegunungan dan dilengkapi dengan sebuah sungai panjang yang membelah kota. Sungai ini adalah muara dari Danau Lindu di Taman Nasional Lore Lindu.

“Inilah yang membuat Kota Palu menjadi indah. Hanya saja, kita tidak punya dana yang besar untuk bisa mengembangkan kawasan ini menjadi tempat wisata modern,” kata Wali Kota Palu Rusdy Mastura. Meski demikian, pihaknya akan mengembangkan kawasan pantai di Kota Palu sebagai tempat wisata malam. “Saya yakin pantai ini akan menjadi tempat yang sangat romantis untuk bersantai bersama keluarga di malam hari,” katanya.

Terumbu Karang
Begitu matahari terbit, suasana romantis di malam hari pun berganti dengan ramainya warga yang memilih santai dan menikmati hangatnya air laut di pagi hari. Tidak hanya itu, bagi mereka yang hobi diving atau snorkeling, akan dapat menikmati keindahan terumbu karang warna-warni yang berbentuk bunga dan pohon.

“Jika kita snorkeling, baru tiga meter dari bibir pantai saja kita sudah dijemput ikan-ikan hias yang bermain-main di antara karang. Kita juga akan menikmati keindahan terumbu karang di Pantai Talise ini,” kata Ferry Taula, salah seorang pengelola restoran.

Selain mendokumentasikan terumbu karang yang berwarna-warni di tempat itu, Ferry Taula juga menjaga kawasan itu dari ancaman pencurian ikan. Caranya, ia menyewa warga setempat untuk menangkap nelayan tradisional yang sengaja menangkap ikan dengan cara menggunakan bom dan racun.

Tapi, dia juga memberdayakan nelayan tradisional setempat dengan memberi perahu dan membeli ikan hasil tangkapan mereka. “Ini saya lakukan agar mereka tidak menangkap ikan dengan cara ilegal,” katanya. Menurut Fery, setiap hari Minggu sedikitnya 100 orang datang ke Pantai Talise.

Pantai Talise memang menjadi kawasan wisata yang paling mudah dijangkau. Jarak dari hotel terbesar di Kota Palu hanya sekitar satu kilometer. Jarak dari lapangan udara hanya sekitar empat kilometer, dan jarak ke lapangan golf sekitar 500 meter.

Sayangnya, kawasan ini baru dikunjungi wisatawan lokal, sedangkan wisatawan mancanegara lebih memilih Pantai Tanjung Karang di Kabupaten Donggala –sekitar 45 kilometer arah barat Palu– dan di Kepulauan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una.

Maklum, kawasan tersebut gencar berpromosi dan dilengkapi fasilitas cottage. Rata-rata wisman berasal dari Eropa. Data Dinas Pariwisata Sulawesi Tengah menyebutkan, dalam setiap tahun wisman di Pantai Tanjung Karang mencapai 150 orang, sedangkan di Kepulauan Togean 300 orang.

Pantai Talise sebetulnya bisa berkembang seperti Pantai Tanjung Karang dan Kepulauan Togean, jika Pemerintah Kota Palu memprioritaskan pengembangan wisata. Mengingat, sejauh ini Pemerintah Kota Palu lebihmprioritaskan pembangunan infrastruktur dan ekonomi.

Pengembangan wisata harus pula seiring dengan penciptaan citra Kota Palu sebagai kota yang aman dan bukan sebagai sarang teroris seperti yang berkembang selama ini.

“Kota Palu ini aman. Media massa saja yang membesar-besarkan kalau kota ini penuh dengan teror,” tegas Ketua DPRD Kota Palu Andi Mulhanan Tombolotutu

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0707/12/kesra03.html

h1

Ratusan Senjata Disita di Poso

September 27, 2007

Erna Dwi Lidiawati [Sinar Harapan]

Poso – Satuan tugas teritorial TNI dari Batalyon Infanteri 714 Sintuvu Maroso, Poso, Sulawesi Tengah, menyita puluhan pucuk senjata api rakitan, ratusan butir amunisi serta tiga granat. Barang-barang yang lazim digunakan polisi atau TNI itu didapat dari warga sipil setempat melalui Operasi Pemulihan Keamanan yang digelar sejak Juli hingga Agustus 2006.

Senjata, amunisi dan bom yang disita dari warga maupun hasil penyerahan serta hasil operasi tersebut, terdiri dari 49 senjata api rakitan laras panjang dan sepucuk senjata api organik laras pendek jenis revolver. Barang-barang tersebut didapat dari Sulewana dan Pendolo, Kecamatan Pamona Utara, Poso. Sebagian besar senjata dan bom itu ditanam warga di kebun-kebun dan hutan setempat.

Panglima Komando Daerah Militer VII Wirabuana, Mayjen Arief Budi Sampurno, menyatakan sesungguhnya kondisi Poso saat ini telah damai. Namun, masih ada warga yang menyimpan senjata, amunisi dan bahan peledak sisa-sisa konflik.

“Kami mengharapkan warga yang masih memiliki senjata, amunisi dan bahan peledak ilegal itu menyerahkannya kepada aparat keamanan,” imbau Arief.

Pangdam VII Wirabuana juga menyatakan bahwa masih ada sejumlah kelompok yang terus menebar teror di Poso guna menciptakan kondisi yang tidak aman. “Namun yang menggembirakan, secara keseluruhan warga Poso tidak lagi mudah terpancing aksi-aksi yang dilakukan pelaku teror,” katanya di Poso, Rabu (23/8).***

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/berita/0608/24/nus05.html