h1

Video Kenangan Berbuah Petaka

Februari 24, 2009

Oleh: Erna Dwi Lidiawati

Palu – Jika saja rekaman video kekerasan antarsesama polisi di asrama Satuan Perintis Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, Poboya, Palu Timur, Sulawesi Tengah, tidak beredar, tentu Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Brigadir Jenderal Polisi Suparni Parto tidak kelabakan harus menjelaskan kepada wartawan terkait hal itu.

Video itu memperlihatkan seorang anggota polisi menjadi bulan-bulanan tamparan, tendangan, dan makian beberapa anggota polisi lainnya. Karena kasus ini begitu serius, Inspektur Pengawasan Umum Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Jusuf Manggabarani pun memerintahkan jajarannya untuk melakukan penyidikan.

Kasus ini pun direkonstruksi, Sabtu (21/2) lalu. Namun, hasilnya seperti yang diduga sebelumnya, para pelaku, korban dan Kapolda Sulteng Brigjen Pol Suparni Parto kembali menegaskan itu adalah video yang diskenariokan sebagai kenang-kenangan. Padahal, hidung Bripda Haedar sempat mengucurkan darah.

Dalam tanya jawab telekonferensi yang dihelat Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira, pelaku dan korban terlihat gugup. Ketika menjawab pertanyaan juru bicara Mabes Polri itu, Haedar dan pelaku penganiayaan selalu mendahuluinya dengan diam kemudian jawaban yang putus-putus. Tampak benar mereka tidak yakin.

Ermas Cintawan, praktisi hukum di Palu, Sulawesi Tengah, mengatakan, sulit memercayai jika itu adalah skenario, karena hidung Haedar berdarah.

Ichsan Loulembah, anggota DPD asal Sulawesi Tengah pun melihat demikian. Ia meminta agar kasus ini diungkap tuntas.

Kapolda Sulteng Brigjen Suparni Parto memastikan bahwa tidak akan menoleransi kekerasan semacam itu jika terjadi. Namun kemudian ia kembali menegaskan bahwa video kekerasan yang beredar sejak 20 Februari lalu adalah skenario. “Mereka membuat kenang-kenangan karena akan ada mutasi. Kejadian itu September 2007 dan baru beredar sekarang,” sebut Suparni.

Apa pun kata Kapolda Suparni, masyarakat telanjur tidak yakin bahwa itu adalah skenario. Apalagi sampai harus berdarah-darah.

Sumber: http://sinarharapan.co.id/berita/0902/23/nus03.html

Satu komentar

  1. tidak polisi, tidak mahasiswa, tidak anak sekolah, tidak…tidak…, dimana-mana terjadi kekerasan…mengapa..mengapa negeri tercinta ini.



Tinggalkan sebuah Komentar

Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.